Tidak semua mahasiswa memiliki perjalanan kuliah yang mudah. Ada yang harus berjuang membagi waktu antara belajar dan bekerja demi mewujudkan cita-cita. Itulah yang dijalani Fildzah Audy Ningrum.
Sejak awal kuliah, Fildzah memilih untuk tetap bekerja agar dapat membantu membiayai pendidikannya. Siang hari ia mengikuti perkuliahan, sementara malam hari ia bekerja di sebuah kafe. Rutinitas itu dijalaninya dengan penuh semangat, meski harus mengorbankan waktu istirahat dan tenaga.
Perjalanan kerjanya tidak selalu mulus. Fildzah pertama kali belajar menjadi barista di sebuah kafe dekat Universitas Sumatera Utara (USU). Di sana ia mempelajari banyak hal, mulai dari meracik kopi, melayani pelanggan, hingga memahami dunia kerja yang sesungguhnya. Baginya, ilmu tidak hanya diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga dari pengalaman hidup.
Ketika kafe tempatnya bekerja tutup, Fildzah tidak menyerah. Berbekal pengalaman yang dimilikinya, ia mencari pekerjaan baru. Ia sempat bekerja di sebuah restoran yang hanya beroperasi pada malam akhir pekan, sebelum akhirnya diterima di sebuah kafe di Jalan Mesjid, belakang kawasan Kesawan, Medan.
Bekerja di kafe bukanlah pekerjaan ringan. Jam pulang sering kali melewati tengah malam, bahkan hingga pukul 02.00 dini hari. Di tengah kondisi Kota Medan yang dikenal rawan tindak kejahatan pada malam hari, Fildzah tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh keberanian.
Justru selalu diliputi rasa cemas adalah Opa dan Omanya. Mereka berusaha menjemput setiap kali memungkinkan. Namun karena usia dan kelelahan, tidak jarang mereka tertidur sehingga Fildzah harus pulang sendiri menembus gelapnya malam.
Allah kemudian menunjukkan jalan yang lebih baik. Setelah mengundurkan diri dari kafe tersebut, Fildzah memperoleh pekerjaan baru di sebuah kafe yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari rumah. Meski lebih dekat, rasa khawatir keluarga tidak pernah hilang.
Kini Fildzah memasuki masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ia tidak ingin kehilangan pekerjaan yang telah diperjuangkannya selama ini. Dengan penuh tanggung jawab, ia meminta bantuan adiknya, Dwi Putri Ayu, untuk menggantikannya sementara.
Namun menggantikan pekerjaan di kafe bukan perkara mudah. Seorang pekerja harus mampu memasak, meracik minuman, membuat kopi, hingga melayani pelanggan dengan baik. Karena itu, beberapa hari sebelum KKN dimulai, Fildzah melatih sendiri adiknya agar mampu menjalankan tugas tersebut dengan baik.
Semangat pantang menyerah Fildzah mengingatkan keluarga pada perjalanan hidup pamannya, Jockie Heruseon, yang kini dipercaya menduduki posisi penting di Telkomsel Indonesia.
Perjalanan Jockie menuju kesuksesan juga tidak mudah. Kegagalan usaha orang tua membuat kondisi ekonomi keluarga terpuruk. Kuliah di ST Telkom hampir menjadi mimpi yang mustahil. Saat akhirnya diterima, ia masih harus berjuang keras membayar biaya kuliah, bahkan beberapa kali meminjam uang kepada teman. Untuk mengerjakan tugas, ia tidak memiliki komputer sendiri dan harus menunggu giliran menggunakan komputer milik temannya.
Perjuangan, ketekunan, dan kerja keras akhirnya mengantarkan Jockie meraih kesuksesan. Kisah itulah yang kini menjadi inspirasi bagi Fildzah untuk terus berjuang menggapai cita-citanya.
Opa, Oma, dan seluruh keluarga hanya bisa memanjatkan doa agar Fildzah kelak mengikuti jejak sang paman. Menjadi pribadi yang sukses, bermanfaat bagi banyak orang, dan mampu membanggakan keluarga.
Sebab pada akhirnya, setiap perjuangan yang dilakukan dengan keikhlasan tidak akan pernah sia-sia. Allah telah menyiapkan jalan terbaik bagi setiap hamba-Nya yang mau berusaha, bersabar, dan tidak pernah menyerah.(***)
Suardi SH

0 Komentar