Catatan Pinggir : Suardi SH
Zhafi Hannan Biantara. Itulah nama cucu lanangku yang menggemaskan. Usianya baru 2 tahun 9 bulan, namun cara berpikir dan rasa ingin tahunya sering membuat orang dewasa tersenyum kagum. Ada kalanya aku merasa, pemahamannya tentang lingkungan di sekitarnya sudah melampaui anak-anak seusianya.
Sejak kecil, Zhafi tumbuh di lingkungan yang berbeda dengan kebanyakan anak. Orang tuanya bertugas di bagian gudang senjata. Dari situlah ia mulai mengenal banyak hal yang mungkin belum dipahami oleh anak-anak lain.
Yang menarik, Zhafi tahu bahwa ada tempat-tempat yang tidak boleh dimasuki sembarang orang. Gudang senjata adalah salah satunya. Setiap kali berada di sekitar area tersebut, ia tidak pernah berani mendekat. Dalam uraiannya, tempat itu adalah daerah terlarang.
Suatu hari, orang tuanya membawanya masuk ke dalam gudang senjata. Mata langsung berbinar-binar. Di hadapannya berjajar senjata-senjata berlaras panjang yang selama ini hanya dilihat dari kejauhan.
Namun, sebagaimana anak kecil yang memenuhi rasa ingin tahu, Zhafi tidak hanya melihat. Ia juga bertanya.
"Kenapa senjata ini besar?"
"Untuk apa senjata itu?"
"Kenapa tidak semua orang boleh masuk ke sini?"
Pertanyaan demi pertanyaan meluncur tanpa henti. Orang tuanya menjawab dengan sabar. Dijelaskan bahwa gudang senjata adalah tempat yang dijaga dan dipercayakan kepada orang tua untuk melayani kebutuhan personel yang bertugas.
Zhafi mendengarkan dengan serius. Kadang mengangguk kecil, seolah memahami setiap penjelasan yang diberikan.
Karena tinggal di lingkungan asrama, pemandangan personel yang berjalan sambil memanggul senjata bukanlah sesuatu yang asing baginya. Ia sudah terbiasa melihatnya sejak kecil. Berbeda dengan banyak anak seusianya yang mungkin akan ketakutan ketika melihat seragam lengkap dan senjata, Zhafi justru berspekulasi sebagai bagian dari kesekharian.
Begitu pula dengan suara terompet yang setiap hari terdengar tepat pukul 06.00 WIB saat penaikkan bendera dan pukul 18.00 WIB saat penurunan bendera. Bagi Zhafi, suara itu seperti penanda waktu yang familiar di telinga.
Ketika personel berlari-lari melakukan tugas atau olahraga pagi, ia akan berdiri di depan rumah memperhatikan dengan penuh minat. Apalagi jika ada yang lewat di dekat rumahnya, dengan ramah ia akan menyapa.
"Om..."
Sapaan sederhana itu sering membuat para personel tersenyum dan membalas lambaian tangan.
Selain kedisiplinan yang setiap hari dilihatnya, ada satu hal lagi yang sangat melekat dalam ingatan Zhafi, yaitu suara azan. Rumahnya berada sangat dekat dengan masjid. Jarak dari halaman rumah ke dinding samping masjid hanya sekitar tiga meter. Tidak heran jika setiap kali azan berkumandang, suaranya terdengar begitu jelas.
Banyak penghuni asrama yang menuju masjid melewati pintu samping dekat rumahnya. Dari situlah Zhafi terbiasa melihat orang-orang yang melakukan panggilan shalat. Lambat laun, lantunan azan menjadi akrab di telinga. Bahkan beberapa potong kalimat azan sudah mampu ia ikuti dengan polos.
Di balik semua itu, tersimpan sebuah cerita tentang namanya.
Nama "Zhafi Hannan Biantara" bukanlah nama yang dipilih tanpa makna. Nama itu lahir dari perjalanan hidup ayahnya. Saat itu, ayahnya bercita-cita masuk Akademi Militer. Namun takdir berkata lain. Ia harus menerima kenyataan gagal pada tahapan psikologi. Meski begitu, semangatnya tidak pernah padam. Ia kemudian diterima menjadi Bintara dan mengabdikan dirinya sebagai prajurit.
Dari kisah itulah nama "Biantara" yang disematkan kepada Zhafi. Sebuah pengingat bahwa dalam hidup, tidak semua jalan yang diinginkan akan tercapai. Namun kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Kadang-kadang, Tuhan menyiapkan jalan lain yang sama mulianya.
Kini, Zhafi tumbuh menjadi anak yang ceria, sopan, dan penuh rasa ingin tahu. Dengan mata beningnya yang selalu memandang dunia seolah ingin mengetahui semua rahasianya, ia menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga.(***)





0 Komentar